SELAMAT DATANG DI ZONA GADO-GADO!!! TEMPATNYA SEMUA BERITA TERBARU DI DUNIA. SILAKAN BERSENGAN SENANG......

Senin, 26 Desember 2011

LIBURAN ASYIK DI AKHIR TAHUN

Sudah punya rencana liburan di Akhir tahun? Kalau belum, nih aku kasih info buat Sobat GADO-GADO semua yg pengen ngerasain liburan Asyik Ala Gado-Gado. heheheh

Suasana liburan akhir tahun sudah mulai terasa. Kalau yang punya waktu dan kesempatan, tentu akan melewati pergantian tahun di luar kota atau juga barang kali ke luar negeri. Satu tujuan yang layak juga jadi pertimbangan jika akan berlibur di akhir tahun adalah berkunjung ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Kita semua pasti sudah tahu kalau Yogyakarta itu punya pesona wisata yang seru, menarik, dan Jawa banget. Di kotanya sendiri kita bisa jalan-jalan di Malioboro, belanja-belanja batik di Pasar Beringharjo, atau juga melihat aneka satwa yang terpelihara dengan baik di kebun binatang Gembiraloka.

Bagi teman-teman yang ingin mencoba sesuatu yang baru dari wisata Jogja, bisa memilih sejumlah pantai indah yang ada di sana. Salah satunya adalah Pantai Trisik. Pantai Trisik sendiri berada di Kabupaten Kulon Progo. Dari pusat kota Jogja, jaraknya sekitar 37 kilometer.

Satu hal yang menarik dari pantai ini adalah suasana pedesaan pesisir yang begitu terasa. Pantai, laut, rumah-rumah nelayan, serta gubug-gubug kecil yang disulap menjadi warung makanan di sekitar pantai, makin memperkuat nuansa pesisir tadi.

Belum lagi pemandangan asri di sekitaran pantai ini, ditambah dengan senyum ramah warga setempat yang kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan. Di pantai ini juga, para wisatawan bisa melihat langsung aktivitas warg pesisir, mulai dari memancing, melaut, hingga menjemur tanaman bahan baku kerajinan.

Mendekat ke bibir pantai, para wisatawan langsung disuguhkan dengan deretan perahu motor yang biasa digunakan para nelayan setempat untuk mencari ikan di laut. Kemudian, bagi yang ingin berbelanja ikan, bisa singgah sejenak ke tempat pelelangan ikan yang ada di Pantai Trisik ini.

Menikmati pemandangan laut sembari membakar ikan, berkumpul bersama teman atau keluarga seperti bisa jadi pilihan liburan yang mengasyikan. Di Pantai Trisik, keramahan nelayan dan indahnya pantai tersaji dalam satu kehangatan. Selamat berwisata.
Read more

Jumat, 23 Desember 2011

Melati Indra Pengecap

Bagaimana menentukan makanan itu enak atau tidak? Salah satunya dengan melatih indra pengecap kita, yaitu lidah, pada makanan-makanan yang netral terlebih dahulu.

Menurut pakar kuliner masakan Indonesia, Willian Wongso, kita bisa memulai belajar mengecap rasa dengan cara membedakan rasa air putih. “Air putih itu ada rasanya lho,” ujarnya di sela-sela penjurian Kecap Black Gold Masakan Andalanku di Carrefour MT Haryono, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Caranya, menurut pria yang sering menjadi juri dalam lomba masak ini, awalnya kita mengecap berbagai macam air putih dalam kemasan yang merk-nya berbeda-beda. Kita rasakan dengan lidah kita satu per satu air kemasan tersebut. “Nanti lidah kita tahu mana yang enak menurut kita,” ujarnya.

Mengapa air putih? Menurutnya, karena air putih netral. Jika tidak peka, kita mungkin mengira rasa semua air putih sama. Padahal, ada sensasi yang berbeda pada lidah kita ketika mengecap air putih. “Mindset dan sensor rasa di lidah kita akan telatih lama-lama,” katanya.

Setelah dengan air putih, kita bisa melatihan pengecapan pada bahan-bahan makanan yang netral seperti sayur. Pada tahap terakhir, kita harus mencicipi bumbu-bumbu masakan tradisional.

Kemampuan berlatih rasa ini berguna untuk membiasakan lidah mengecap berbagai rasa makanan. Kita pun akan segera bisa membedakan makanan mana yang enak atau tidak, meskipun penilaian enak ini bisa subyektif karena penilaian pengecapan lidah setiap orang berbeda.

Jika Anda sudah ahli mengecap rasa, maka Anda bisa menjadi juri lomba memasak dan menentukan masakan mana yang paling enak, seperti William Wongso.
Read more

PELECEHAN SEKSUAL DI GEREJA BELANDA

Liputan6.com, Amsterdam: Selama lebih dari 60 tahun terakhir, ribuan anak mengalami pelecehan seksual di Gereja Katolik Roma Belanda dan 800 tersangka telah diperiksa. Demikian dikatakan penyidik dalam laman CNN, belum lama ini.

Beberapa puluhan ribu anak di bawah umur mengalami berbagai jenis pelecehan, baik ringan maupun serius. Akibatnya, para korban trauma selama bertahun-tahun. Mereka memerlukan perhatian dari keluarga korban dan konseling dari psikolog profesional.

Menurut laporan yang dimuat dari 1945 hingga 2010, pelecehan ini masih terbilang ringan. Tapi merupakan masalah serius karena menimpa banyak korban dalam jangka waktu panjang. Seorang penyidik mengatakan, petugas gereja, seperti pendeta dan pastor harus bertanggung jawab untuk menangani para korban.
Kasus ini berdampak pada negara, karena Katolik Roma yang merupakan agama terbesar di Belanda telah tercemar di mata masyarakat. Selama ini Katolik Roma telah berperan dalam agama, politik, media, pendidikan, dan serikat buruh.

Sementara Komisi Penyelidikan telah menerima 1.795 laporan terkait pelecehan seks terhadap anak-anak di gereja. Laporan berisi informasi tentang 800 nama tersangka. Mereka adalah petugas gereja di dalam keuskupan Katolik Roma. Sebagian besar pelaku merupakan korban pelecehan sewaktu muda. Mereka menyesal dan meminta maaf setelah dipertemukan dengan korban.
Read more

Bola Misterius Ditemukan di Namibia

Polisi Namibia dibuat kalang kabut. Di padang rumput terpencil di bagian utara negaranya, ditemukan bola misterius yang diduga jatuh dari langit. Bola misterius  dengan diameter 35 cm dan berat 6 kilogram itu ditemukan sekitar 750 kilometer (480 mil) dari ibukota Windhoek. Pemerintah setempat segera mengadu ke NASA dan Badan Antariksa Eropa untuk menyelidiki temuan itu.

Sekitar 18 meter dari tempat ditemukannya bola ini, terdapat sebuah lubang sedalam 33 sentimeter dan lebar 3,8 meter. Sebelum bola ini ditemukan oleh petani di tanahnya, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan kecil beberapa hari sebelumnya.

Menurut ahli forensik, Paul Ludik, bola itu terbuat dari paduan logam yang dikenali oleh manusia. "Bola memiliki permukaan kasar dan tampaknya terdiri dari dua bagian dilas bersama-sama," kata Ludik seperti dikutip kantor berita AFP. Dia menjelaskan bahwa ledakan yang didengar oleh penduduk setempat merupakan 'sonic boom' ketika benda itu turun ke bumi, atau suara akibat benturan dengan tanah.

Deputi Inspektur Polisi Jendral Vilho Hifindaka menyimpulkan bola tidak menimbulkan bahaya apa pun. "Ini bukan bahan peledak, melainkan bola berongga, tetapi kami harus menyelidiki semua ini dulu," katanya.
Read more

SIAPA MASYARAKAT ASLI PULAU BUTON?


1. Suku Wambolebole
Pulau Buton didatangi oleh sekelompok masyarakat berasal dari bangsa Neutro Melayu yang menyebar dikawasan Asia Tenggara bersama suku terasing lainnya di Nusantara pada abad ke – 3 sebelum Masehi. Bentuk tubuhnya memiliki kesamaan satu sama lain, perilakunya pun demikian. Mereka berjalan beriringan-iringan dan berjejer satu persatu kebelakang. Cara berpakaian laki-laki dengan menggunakan destar diikat dengan tali hutan, sementara perempuan memakai sarung tradisional yang khusus untuk wanita disebut Kasopa. Benangnya diberi warna dari daun nila yang disebut Lolo.

Mereka tidak melakukan percakapan bila berada ditengah-tengah orang banyak. Bila dianggap perlu mereka berbisik-bisik atau menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan temannya. Bila mereka berada dipasar, mereka membeli tembakau iris, kapur sirih, buah pinang dan bahan keperluan lain seperti ikan kering dan gula merah. Mereka datang tidak diketahui dari mana asalnya, secara tiba-tiba pun mereka kembali tanpa bekas.
Suku ini mendiami hutan belantara antara wilayah Kolensusu dan Lasalimu. Saat ini pun mereka masih ada, tetapi keberadaan mereka tidak bisa diliat orang biasa.

2. Suku Kombilo
Suku Kombilo merupakan salah satu suku asli yang mendiami hutan belantara anatara wilayah Watouge dan wilayah Lambelu. Ciri khas suku ini sama dengan suku Wambolebole. Suku ini tidak dapat dilihat oleh masyarakat biasa. Suku ini pula sering mengunjungi pasar-pasar. Mereka jarang berkomunikasi dengan masyarakat biasa.
Apabila mereka bertamu dirumah masyarakat biasa mereka tidak dapat terlihat melainkan hanya suara saja yang terdengar. Sebaliknya apabila masyarakat biasa yang berkunjung diperkampuan suku Kombilo haruslah membawa oleh-oleh berupa ikan Wawokia (Lure/Teri) yang dimasak dan diasapi (Kaholeona Rore), tembikau iris, daun sirih, buah pinang. Lalu berdiri dipinggir jalan sambil menutup mata dan berniat sesuai perjanjian antara tamu dengan anggota suku yang akan dikunjungi. Setelah membuka mata kembali, tamu itupun telah berada diperkampungan suku Kombilo.

3. Suku Wakarorondo (Wakaokili)
Keberadaan suku Wakarorondo (Wakaokili) sama dengan suku Wambolebole dan Kombilo. Suku Wakarorondo (Wakaokili) bermukim pada hutan belantara wilayah Pasarwajo. Suku ini juga hanya dapat terlihat jika berada dipasar dan ketika meninggalkan pasar begitu saja tanpa diketahui kemana arahnya.
Peradaban mereka juga sama, cara berpakaian dan berjalannya sama. Proses berjalannya beriring-irngan dan berjejer satu saf kebelekang, ini disebabkan karena kebiasan mereka berjalan dihutan, yang ada hanya jalan setapak sehingga setiap orang terpaksa berjalan satu-satu, beriringan kebelakang.
Informasi budaya mengatakan suku ini hidup bertani, mengumpulkan hasil hutan, memlihara hewan ternak dan menangkap ikan di sungai. Kepercayaan, agama dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain atauapu berkomunikasi antar mereka sendiri maupun melalui uang mereka gunakan untuk tukar menukar belum diketahui secara pasti.
Read more